Profile

 

Jayakarta Symphony Orchestra (JSO)

Kelahiran Jayakarta Symphony Orchestra (JSO) adalah sebuah kelahiran yang sangat indah dan ditunggu-tunggu. Ia lahir dari kecintaan kepada Musik dan Indonesia. Mengapa demikian? Karena keduanya menghasilkan percikan kebahagiaan serta kebanggaan. Kebahagiaan karena mendengarkan alunan nada yang indah, yang disampaikan oleh generasi muda Indonesia. Tentu saja bangga setelahnya. Begitulah harapan yang muncul saat JSO mulai memasuki masa-masa kelahirannya.

Desember 2017, JSO lahir, menggeliat, tumbuh dan memeriahkan Konser Selendang Nusantara pada 25 Januari 2018 di Soehanna Hall. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan dari sebuah orkestra yang baru lahir. Hal tersebut menjadi mungkin untuk diwujudkan karena ada dedikasi di dalamnya, pada sosok Dedi Sjahrir Panigoro sebagai pendiri dan Nathania Karina sebagai Direktur Musik dan juga membina Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST), sebuah orkestra remaja nirlaba yang telah berkembang menjadi salah satu orkestra paling menarik di Jakarta.

JSO didukung oleh pemusik muda berbakat Indonesia, di JSO bakat tersebut diasah dengan intensif dan komitmen yang tinggi untuk dapat menampilkanmusik yang indah dan sikap profesional, dengan begitu penampilan mereka adalah kebahagiaan bagi penonton dan kebanggaan bagi Indonesia.

Guest Conductor

Gevorg Sargsyan (Armenia)

Hailed as “…one of the most inspiring artists of his generation…” Gevorg Sargsyan is a Singapore based conductor and music director from Armenia. Recipient of Sir Georg Solti Award he has been guest-conducting in various venues around the world with different orchestras including Orquesta Joven de Valencia, Singapore Camerata Chamber Orchestra, Czech Chamber Philharmonic Orchestra, Pescara Philharmonic Orchestra, Lviv Symphonic Orchestra and worked full time at the Armenian National Opera & Ballet Theatre.

Gevorg studied in his native Armenia at the Yerevan State Conservatory and later continued in Vienna Conservatory and Goldsmiths College of Music (UK). After moving to Asia, he is combining his career between conducting and running masterclasses and lectures.

Gevorg has been a visiting professor at University of Philippines College of Music, Manila, and guest lecturing in various educational establishments across South East Asia. Gevorg is a “Master Class” labled artist of AMC recordings (USA) and has recorded several CD’s with Yerevan Chamber Orchestra under the label. He is a wanted guest artist at various festivals such as Gergetown Festival, Malaysia, Fête de la Musique and Rhythm Festival among others.

As Artistic director Gevorg has masterminded several highly successful music productions including ¡Piazzolla! Not Only Tango, GlobMus & Symphony of Motherhood. He has been recently appointed as a music director of Madison Academy of Music Singapore.

Gevorg’s upcoming engagements include concerts in Czech Republic and Germany, followed by South East Asian tour.

Artistic Director

Nathania Karina, D.M.A.

Nathania Karina received her Doctor of Musical Arts degree in Music Education from the Boston University in 2015 and received a Master of Music with a double degree in Piano Performance and Music Education in 2009 from The University of Melbourne.

An active pianist and chamber musician, she gave various performances and seminars in music festivals or workshop with focus on Austrian-Classical Music, Orchestration, History and Music Education throughout Asia Pacific, Australia & European countries. Back in her home town, she co-found Andante Music School in 2007 and wishes to provide the best yet accessible music lesson for everyone. She truly believes that music is for everyone to enjoy and learn.

Occasionally writes and arranges music, her projects includes Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST), a non-profit youth orchestra which has grown into one of the most exciting orchestras in Jakarta; Music Avenue, a highly reviewed music entertainment solution; and Musicmind – an organization focusing in music education which has successfully held the first Indonesia Orchestra & Ensemble Festival in 2016 and various workshops all over Indonesia.

Conductor

Purwacaraka

Lahir di Beograd, Yugoslavia, 31 Maret 1960 dan telah akrab dengan musik sejak kecil. Ayahnya, Soedjono, meski seorang tentara yang sangat menyukai musik. Ia memiliki banyak koleksi piringan hitam, hasil saat bertugas di Amerika. Saat Purwacaraka berusia tujuh tahun, sang ayah membelikan sebuah piano. Tak hanya itu, Purwa juga belajar piano kalsik dari A Becalef, seorang guru piano berkebangsaan Hongaria di Bandung. Saat Purwa duduk di bangku SMP, salah seorang teman ayahnya dari Amerika menawari Purwa untuk belajar musik ke Amerika. Dia terpukau oleh permainan piano Purwa. Sayang ibunya tidak mengizinkan.

Ketika kuliah di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), kepiawaian musiknya makin berkembang. Ia kerap mendapat job, mulai dari pesta perkawinan hingga reuni anak-anak sekolahan. Meski disibukkan dengan bermusik, Purwa mampu menyelesaikan kuliahnya dengan Indeks Prestasi (IP) memuaskan.

Musik memang telah menjadi darah daging Purwa. Salah satu bukti kesetiaannya pada musik, dia mendirikan sekolah musik, Purwacaraka Music Studio yang telah berkembang pesat hingga kini memiliki 76 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.

Penampil

Aditya Pradana Setiadi - Piano

Meraih gelar sarjana sosial dalam bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia (2008) dan memperoleh beasiswa pemerintah RI untuk melanjutkan pendidikan magister Musikologi di King’s College London, lulus dengan predikat Magna Cum Laude (2017). Aditya turut berkarya sebagai musisi, lulus pendidikan keguruan piano di bawah bimbingan Iravati Mangunkusumo-Sudiarso di Sekolah Musik YPM. Ia pernah memenangkan beasiswa dari pemerintah Hongaria untuk studi pedagogi musik di Fakultas Musik Universitas Debrecen (2010). Ia juga berpartisipasi sebagai peserta aktif akademi musim panas Universitas Mozarteum Salzburg, mengambil studi piano dan lagu sastra Jerman (lieder) bersama Prof Norman Shetler (2013). Ia telah mengajar di Universitas Indonesia sejak 2009 dan hingga saat ini berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta sebagai peneliti dan konsultan program, terutama pada proyek DKJ-BEKRAF Jakarta City Philharmonic. Minat penelitiannya mencakup Musikologi Kontemporer dan Kajian Pascakolonial.

Amar Ibrahim

Amar Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Amar (lahir di Jakarta, 6 Februari 1981) adalah seorang pemusik berkebangsaan Indonesia. Amar adalah mantan personel grup musik Maliq & D’Essentials.

Selain bermusik Amar adalah seorang profesional di bidang Internet marketing dengan fokus pada e-commerce.

Gabriel B Harvianto

Mengawali dan mendapatkan ilmu serta pengalaman dalam bidang vokal dan musik bersama alm. Elfa Secioria, sejak usia 8 tahun. Menjadi pelatih vokal di Elfa Music Studio sejak tahun 2003.

Tergabung dalam Elfa’s Jazz & Pop Singers, dan meraih Grand Champion di festival paduan suara untuk kategori Pop & Jazz (Olympic Choir / Choir Games) dari tahun 2000 – 2008.

Terlibat dalam beberapa produksi musikal, sebagai pemeran utama dan ensemble :

  1. Musikal Laskar Pelangi 2010 – 2012
  2. Drama Musikal Sang Kuriang 2013
  3. Operet Badai Kasih 2013
  4. Drama Musikl Gita Cinta 2013
  5. Drama Musikal Timun Mas 2013
  6. Musikal Prahara Cinta Badai Kasih 2013
  7. Musikal Tresna (Art Swara) 2014
  8. Drama Musikal Khatulistiwa 2016

Tampil dalam beberapa konser :

  1. Konser Masterpiece Of Erwin Gutawa 2013
  2. Sri Mimpi – Guruh Soekarnoputra 2013
  3. Konser 40th Erros Djarot bersama Erwin Gutawa 2014
  4. Konser TRAYA, KD – Erwin Gutawa – Jay Subiyakto 2015
  5. The Heritage 2016 bersama Wishnu Dewanta
  6. Indonesian – Polish Musical Collaboration with David Foster & Peter Gontha 2016
  7. Runner Up program DANGDUT ACADEMY CELEBRITY 2 Indosiar 2017
  8. The Heritage 2017 Wishnu Dewanta
  9. Konser SATU INDONESIA bersama Erwin Gutawa & Jay Subiyakto (2017)
  10. TOP 8 program DANGDUT ACADEMY ASIA 3 Indosiar 2017
Putu Sastrani Titaranti Dewantara Wirata

lahir di Jakarta 15 November 1988. Seorang Spinto Soprano yang menamatkan studinya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 2010, dengan major Classical Vocal Performance.

Seni mengalir dalam darahnya yang diwariskan dari kedua orang tuanya. Ayahnya Nyoman Dewantara yang seorang mantan fotografer profesional dan ibunya N. Sri Rejeki HS yang seorang pelukis. Sastrani memperlihatkan bakat menyanyinya sejak berumur 4 (empat) tahun.

Dalam karier bermusiknya Sastrani dikenal sebagai Classical cross-over Soprano. Sejak 2010, bekerja sama dengan seorang musisi Jazz Legendaris Asia yang juga Gurunya, Idang Rasjidi. Didalam beberapa konser Jazz baik didalam maupun luar negri, Sastrani mempertunjukan karya-karya aria-aria opera, musikal teater, lagu-lagu lawas komponis besar Indonesia dan lagu-lagu popular lain diluar spectrum.

Kolaboarsinya ini juga diakui baik dalam maupun luar negri. Dan menjadikannya seorang penyanyi klasik yang sukses menggabungkan bahkan “mengkawinkan” dua musik yang berbeda kedalam sebuah petunjukan. Beberapa nama-nama besar Jazz yang pernah bekerja sama dengan Sastrani antara lain Oele Pattiselanno, Agam Hamzah, Iwan Wiradz dan Louis Pragasam.

Jessica Januar

Jessica menyelesaikan pendidikan vokalnya di Guildhall Music School of Music and Drama,London, Inggris jurusan Classical Vocal Performance mengambil Graduate Certificate (Pg.Dip), dibawah bimbingan Sarah Pring. Selama bersekolah, Jessica berkesempatan untuk tampil dalam beberapa resital sekolah bersama murid-murid lainnya, salah satunya dalam pertunjukan opera scene di mana Jessica berkesempatan untuk tampil dalam opera “Turn Off the Screw” sebagai Miles , karya Benjamin Britten.

Perjalanan bermusiknya dimulai di tahun 2002 di mana ia bergabung dengan Paduan Suara
Anak Indonesia (PSAI) di bawah bimbingan Ibu Aida Swenson-Simanjuntak. Bersama PSAI, Jessica mendapatkan banyak kesempatan untuk tampil. Beberapa diantaranya Jessica berkesempatan mengikuti World Harmony Tour ke Amerika untuk tampil di beberapa tempat. Jessica juga berkesempatan untuk tampil sebagai Brigitta dalam cuplikan The Sound of Music
bersama Nusantara Symphony Orchestra, tampil solo dalam pagelaran Celebrities For Kids yang diadakan oleh UNICEF (2004), dan tampil sebagai solois dalam konser tahunan PSAI (2005).

Merasa serius untuk menekuni dunia musik, Jessica mengambil kursus privat kepada Avip Priatna (2005) yang kemudian berlanjut menjadi anggota Batavia Madrigal Singers yang juga membawanya ke banyak pengalaman untuk konser dan kompetisi tingkat internasional.

Jessica juga pernah berkesempatan untuk menjadi solis dalam beberapa konser BMS.

Jessica kerap tampil dalam pertunjukan musikal sejak SMA, diantaranya tampil dalam Canisius
Art Blast dalam pementasan GREASE bersama Colese Canisius di Gedung Kesenian Jakarta. Saat kuliah S1 di The London School of Public Relations, Jessica bergabung dengan Club Teatro LSPR dan berkesempatan untuk tampil sebagai pemeran utama, diantaranya sebagai
Maria dalam “The West Side Story” (2009), Fantine dalam “Les Miserables” (2010), dan Nessarose dalam “Wicked” (2011) . Ditahun terakhir kuliahnya Jessica berkesempatan menjadi sutradara dari “Anything Goes” (2012). Ditahun terakhir kuliahnya Jessica menampilkan Opera The Telephone, di mana ia adalah produser, sutradara, dan juga berperan sebagai Lucy pada opera tersebut. 2016, Jessica tampil sebagai Belinda pada opera Dido and Aeneas dibawah arahan sutradara Ian Pierson bersama beberapa penyanyi lainnya dan siswa-siswa Tanglin Trust School-Singapore.

Seusai kuliah,ditahun 2013, Jessica berkesempatan untuk tampil dalam panggung drama
musikal besar seperti Gita Cinta The Musical (re-run), Timun Mas, Perayaan Cinta Badai –
Kasih, dan di tahun 2014 dipertunjukan Tresna.

Jessica berkesempatan beberapa kali dalam konser kolaborasi bersama gitaris John Paul,Benigna Brigida, dan pianis Leonardi Joewono dalam konser penggalangan dana untuk
Yayasan Biji Sesawi, dan berkesempatan membawakan karya komposer Indonesia, Ananda Sukarlan dan salah satunya adalah World Premier. Jessica juga pernah mendapat kesempatan
untuk bekerja sama dengan musisi Dian HP & Dwiki Dharmawan.